Saguling, Menerangi dan Menghidupi

Saguling, Menerangi dan Menghidupi

Pernahkah mengunjungi Bendungan Saguling? Bagi warga di sekitaran Bandung, pastilah tak asing lagi. Jalan menuju Bendungan Saguling bisa dicapai lewat beberapa akses. Biasanya lewat Jalan Raya Bandung-Cianjur. Persis di daerah Rajamandala, ada papan nama PLTA Saguling. Dari situ masuk ke arah Saguling atau Cipongkor sejauh kira-kira 18 kilometer. Perjalanan cukup menyenangkan karena melintasi kawasan pegunungan dan hutan Rajamandala yang hijau. Rute kedua melintasi kawasan Cililin dan Cihampelas. Namun rute ini agak jauh memutar.

Bendungan Saguling adalah waduk (dam) buatan (man made lake) yang terdapat di Bandung Barat. Bendungan ini membendung aliran Sungai Citarum. Saguling merupakan satu dari tiga bendungan di sepanjang aliran Citarum. Dalam garis aliran sungai tersebut, Bendungan Saguling terletak paling hulu, kemudian ke arah hilir Bendungan Cirata dan terakhir Bendungan Jatiluhur. Dalam sistem tiga waduk tersebut, walaupun bukan pertama kali dibangun, Bendungan Saguling merupakan filter kotoran pertama di aliran sungai Citarum. Posisi Bendungan Saguling berada di ketinggian 643 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Konstruksi bendungan (tanggul) berada di Desa Saguling, Kecamatan Saguling. Tetapi bendungan itu menenggelamkan 49 desa. Ada sekitar 12.000 Kepala Keluarga yang dipindahkan, sebagian ikut proyek transmigrasi

Luas daerah genangan waduk ini sekitar 5.600 hektar. Bentuk bedungan Saguling tidak beraturan, tidak seperti daserah genangan yang luas. Di Bendungan Saguling justru terdapat banyak teluk karena mengikuti topografi wilayahnya. Lewat visual udara, bentuk Bendungan Saguling berkelok-kelok mengikuti kontur alamnya. Dilihat dari atas, selintas mirip jari-jemari. Proses pembangunan Bendungan Saguling berlangsung antara tahun 1980-1986. Konstruksi bendungan (tanggul) berada di Desa Saguling, Kecamatan Saguling. Tetapi bendungan itu menenggelamkan 49 desa. Ada sekitar 12.000 Kepala Keluarga yang dipindahkan, sebagian ikut proyek transmigrasi. Volume air dalam tampungan awal sebanyak 875 juta m3. Usia bendungan dirancang hampir 60 tahun, yakni hingga 2044.

Pak Harto datang naik helikopter waktu meresmikan Bendungan Saguling. Helikopternya mendarat di lapangan Borowpit, yang memang dibangun untuk tempat mendarat helikopter

Sejarah pembangunan bendungan itu tak lepas dari gagasan insinyur Belanda, WJ van Blommestein pada awal abad ke-20. Semangatnya untuk mengintegrasikan seluruh sistem pengairan di Jawa Barat, maksudnya di aliran Sungai Citarum. Tetapi kemudian malah Bendungan Jatiluhur yang didahulukan pembangunannya karena lebih mendesak, antara 1957-1967. Bendungan Saguling mulai beroperasi tahun 1985. Peresmiannya dilakukan oleh Presiden Suharto. “Pak Harto datang naik helikopter waktu meresmikan Bendungan Saguling. Helikopternya mendarat di lapangan Borowpit, yang memang dibangun untuk tempat mendarat helikopter,” kenang Ita, mantan pekerja di proyek Bendungan Saguling, pada awal 2019.

Bendungan Saguling dibangun untuk kepentingan energi listrik. Pada tahap awal pembangkit tenaga listrik terpasang memiliki kapasitas 700 megawatt (MW). Dalam perjalanan waktu, kapasitas listriknya ditingkat menjadi 1.400 MW, akibat ada peningkatan kebutuhan listrik. Rupanya fungsi bendungan semakin berkembang, tidak hanya keperluan pasokan energi listrik. Bendungan Saguling pun mempunyai fungsi multiguna, antara lain perikanan, irigasi, agro akuakultur, dan tentu saja pariwisata. Bendungan Saguling menjadi sumber kehidupan dan penghidupan banyak orang. Tidak cuma yang tinggal di sekitaran waduk.(*)



1 thought on “Saguling, Menerangi dan Menghidupi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *